Sejarah Tari Gambyong dan 3 Faktanya Yang Mengejutkan

Diposting pada

Sejarah tentang tari Gambyong berdasarkan informasi yang berhasil kami kumpulkan dari berbagai sumber akhirnya bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Awalnya kami ragu karena masih sedikit ulasan sejarah tari adat tersebut. Jika pun ada, isinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan malah bicarakan sejarah, namun muter – muter pembahasannya. Bikin bingung pembaca.

Kita tidak tahu apa motivasi mereka yang meulis di blog dan kemudian mempublikasikannya di Komunikasi Daring tapi isinya tidak nyambung. Apa hanya untuk mendapatkan trefik saja atau ingin menyesatkan pembaca yang butuh informasi tentang tari Gambyong? Entahlah. Yang pasti, prinsip kami dalam menulis tetap berusaha untuk menyajikan informasi yang relevan dengan judul.

Tak putus asa, kami terus mencari bahan untuk membuat artikel yang sesuai dengan judul, yaitu sejarah tari Gambyong dan penjelasan serta keunikannya. Meski tidak panjang penjelasannya, namun kami lampirkan pula poin – poin kesimpulan guna menangkap benang merahnya. Hal inilah yang membuat sajian informasi dari kami memiliki nilai lebih.    

Gambar terkait dengan artikel tari Gambyong yang memiliki keunikan.
Pertunjukan tari Gambyong via merahputih

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga apa yang dibutuhkan untuk menyuguhkan ulasan informasi mengenai sejarah tari Gambyong. Selamat membaca.

Tercatat Di Kitab

Jika ada negara lain yang coba mengklaim tari Gambyong adalah milik mereka, maka dengan mudah negara Indonesia dapat membantahnya. Karena kita punya bukti otentik yang tidak terbantahkan.

Berdasarkan kitab Serat Centhini, yaitu kitab klasik yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V (1820-1823), sangat jelas menyebutkan adanya gambyong sebagai tarian tlèdhèk. Kemudian, salah seorang penata tari pada masa pemerintaha Pakubuwana IX (1861-1893) bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap tarian rakyat ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi.

Kitab Serat Centhini via wikipedia

Akhirnya, sampailah pada nama tari Gambyong menjadi populer yang berdasarkan pengakuan Nyi Bei Mardusari, seniwati yang juga selir Sri Mangkunegara VII (1916-1944), gambyong biasa ditampilkan pada masa itu di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran.

Perlu diketahui, bahwa ada terjadi perubahan penting pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang “dibakukan”, yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Penampilannya pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan MN VIII, pada tahun 1951. Yang membuat kagum adalah respon dari masyarakat. Tenryata, kehadiran tarian ini disukai oleh masyarakat sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas.

Sejatinya, kehadiran awal tari gambyong biasa dipakai pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari. Seiring berjalannya waktu, pihak keraton Mangkunegara Surakarta menata ulang dan membakukan struktur gerakannya. Namun awalnya tarian gambyong ini adalah milik rakyat sebagai bagian upacara adat Jawa Tengah.

Dan sekarang, tari gambyong dibawakan untuk berbagai acara, termasuk memeriahkan acara resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan. Fungsinya bersifat dinamis dan harus terus dijaga atau dilestarikan sampai kapan juga supaya tidak tinggal sejarah saja. Menjaga sepertinya lebih sulit dari pada membuatnya.

Tarian yang berasal dari daerah sekitar Surakarta, Jawa Tengah mempunyai cerita menarik terkait sejarahnya, yaitu nama gambyong sendiri sebetulnya berasal dari nama seorang penari kondang pada masa itu. Sri Gambyong namanya. Sri Gambyong yang memiliki suara merdu dan keluwesan dalam menari telah memikat banyak orang. Pertunjukan seni tari tayub atau tari taldhek yang dilakukannya di jalanan, bagi banyak orang dianggap memiliki ciri yang sangat khas dan berbeda dari penari-penari biasanya. Sehingga seluruh masyarakat di wilayah Kasunanan Surakarta pada masa itu tak ada yang tidak mengenal ia.

Baca: Alat Musik Sulawesi Utara

Tari Gambyong hampir sama sejarahnya dengan tari topeng Betawi yang awal mulanya dipertunjukkan dijalanan. Memang murni hadir untuk menghibur rakyat yang sejatinya memang membutuhkan hiburan guna melepas lelah selama bekerja seharian.   

Kesimpulan

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai sejarah tari Gambyong, yang pertama adalah Tari adat ini hadir murni dari masyarakat ketika itu. Selanjutnya dimodifikasi oleh pihak kerajaan pada masa itu.

Kedua, hadirnya tari gambyong awal kegunaannya untuk merayakan panen padi. Namun seiirng berjalannya sang waktu, tarian adat Jawa Tengah ini berfungsi sebagai saran hiburan bagi tamu kerajaan yang datang.

Ketiga, nama penari awalnya adalah Sri Gambyong yang punya suara merdu namun tidak banyak dikenal oleh masyarakat ketika itu. Jika ada yang tahu, hanya sebagian saja dari mayoritas masyarakat setempat.

Pertunjukan tari Gombyang di jalanan via detik.com

Lihat: Sejarah Tari Saman

Demikian ulasan pada kali ini. Ulasan yang membahas tentang sejarah tari Gambyong disertai dengan beberapa keunikannya. Semoga Anda mendapatkan manfaat dari informasi ini dan jangan lupa bagikan kepada teman – teman Anda yang ada di jaringan sosial media. Kami mengucapkan terima kasih kepada Anda yang sudah mampir ke blog ini.

Oh iya, jangan lupa baca juga sejarah tari piring.

Silahkan berkomentar