Sejarah Tari Tor Tor dan Fungsi serta 5 Propertinya Yang Unik

Diposting pada

Sejarah tari Tor Tor jarang diungkap kepublik oleh para jurnalis, apa karena kurang bahan atau memang ada kesan tertentu terhadap kesenian dari suku Batak ini?

Tari Tor Tor merupakan tarian daerah Sumatera Utara yang memiliki ciri khas tersendiri. Sampai kini, tari Tor Tor masih banyak digelar oleh masyarakat, khususnya masyarakat dari suku Batak.

Keberadaan tari Tor Tor memang menarik untuk dipelajari lebih jauh lagi. Selama ini kita hanya tahu nama dan gerakannya. Pernahkah kita mau tahu sejarahnya? Padahal dengan mengetahui sejarahnya, ada banyak nilai – nilai yang bisa kita petik.

Keseniaan suku Batak ini harus dilestarikan sampai kapan pun juga. Jangan sampai punah di telan masa. Sudah saatnya Indonesia bangga dengan keseniannya sendiri yang merupakan warisan para leluhur dari zaman dahulu.

Artikel yang Anda baca ini akan membahas mengenai sejarah, fungsi dan properti yang digunakan dalam pertunjukkan tari Tor Tor. Dikutip dari berbagai sumber, kami yakin dapat memberikan wawasan yang lebih baik untuk para pembaca. Selamat menyimak!

Tari Tor Tor (Travellingyuk)

Sejarah Tari Tor Tor

Ada yang menyatakan dari kalangan seniman terkait nama tor tor yaitu berasal dari hentakan kaki para penari yang bersuara “tor” “tor” karena menghentakkan kakinya pada lantai rumahnya yang beralaskan kayu.

Untuk waktunya, masyarakat Batak Toba sejak masa pra sejarah sudah mengena tarian ini. Karena itu pula sebagian orang menyebut bahwa tarian tor tor merupakan sebuah tari purba. Meski zaman pra sejarah hanyal ilusi saja. Singkatnya, tari Tor Tor sudah ada sejak lama, sebelum Indonesia merdeka.

Uniknya, sampai saat ini para seniman masih belum tahu siapa pencipta tarian ini. Namun menurut Guru Besar Tari Universitas Indonesia Edi Sedyawati menyatakan bahwa sudah ada pencatatan hasil perjalanan di zaman kolonial yang mendeskripsikan Tari Tor-tor, seperti dilansir National Geographic.

Pada awalnya kesenian ini menjadi sebuah ritual adat istiadat dalam berbagai macam acara seperti upacara kematian, kesembuhan, dan lain sebagainya. Singkatnya, pada masa silam tarian dari daerah Batak Sumatera Utara ini masih menjadi sebuah ritual yang disajikan dalam gerakan.

Di zaman kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia tari Tor Tor kemudian mendapat pengaruh. Hal ini dapat dilihat dari makna yang terkandung dalam setiap gerakan tarian tersebut.

Ada juga pendapat yang memperkirakan sejak kisaran abad ke-13, tari Tor-Tor sudah ada dan menjadi bagian dari budaya suku Batak, demikian disampaikan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tortor yang bernama Edi Sedyawati.

Waktu berjalan, tarian Tor Tor terus berkembang dan menyebar ke seluruh wilayah Batak Sumatera Utara. Sekarang, siapa yang tidak kenal dengan tari Tor Tor ini? Kami yakin orang Papua juga sudah mengenalnya.

Kita berharap tarian aadt ini tidak hilang ditelan zaman. Keberadaan budaya asing jangan sampai memaling wajah generasi Indonesia untuk beralih gaya hidup. Update tentang masa lalu dari tari Tor Tor harus terus dilakukan guna mendudukan arti sejarah yang sejatinya. Anda bisa baca pengertian sejarah menurut Aristoteles agar kita tidak anggap enteng dengan masa lalu.

Fungsi Tari Tor Tor

Fungsi atau kegunaan dari tari Tor-Tor pun dinamis disebabkan mengikuti perkembangan zaman. Awalnya, kehadiran tarian tradisional ini sebagai syarat khusus atau tari pembersih yang dilaksanakan sebagai langkah sebelum acara hajat agar diberi kelancaran dan di jauhkan dari segala marah bahaya.

Pertujukkan Tari Tor Tor (Merdeka)

Kemudian, apabila desa tempat tinggal suku Batak pernah terkena musibah maka pada tanggal musibah itu diadakan pertunjukkan tari Tor tor yang dapat disaksikan oleh masyarakat setempat. Dalam waktu yang tidak jauh berbeda, ada juga yang memfungsikan tari Tor Tor dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan “dimasukan” ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur).

Sekarang, selera manusia mulai berubah, kegunaan tari Tor Tor digelar untuk memberikan hiburan kepada rakyat. Bahkan tidak jarang, tari ini dipertunjukkan untuk menyambut tamu yang datang ketanah Batak. Dan tidak jarang tari Tor Tor dikemas untuk menarik para turis baik domestik dan internasional untuk datang menyaksikan destinasi wisata Danau Toba.

Dapat dikatakan, fungsi dari tarian sakral yang dulunya dilakukan sebagai upacara adat oleh orang-orang Batak ini perlahan bergeser mengarah sebagai hiburan baik dalam acara resmi pemeritahan, maupun acara-acara perkawinan.

Properti Tari Tor Tor

Properti tari adalah alat yang dikenakan dalam pertunjukkan tari yang harus selalu ada. Karena propertinya ini yang menjadikannya memiliki ciri khas jika dibandingkan dengan tari lainnya. Pada tari Tor tor, paling tidak ada sebanyak 5 properti yang wajib dan selalu ada, apa saja itu? Simak informasinya berikut ini yang dikutp dari laman Senitaricom.

Tari Daerah Tor Tor (Google Image)

1. Tutup Kepala

Di bagian atas penari memakai tutup kepala alias ikat kepala yang bahannya terbuat dari kain ulos. Ikat kepala ini digunakan melingkar pada kepala para penari dimana sebagai hiasannya biasanya terdapat pernak-pernik berupa bunga-bunga terbuat dari kuningan. Jika para penari terdiri dari para wanita, maka yang biasa dilakukan, selain tutup kepala akan ada properti tambahan berupa tusuk konde untuk menambah kecantikan dan keanggunan.

2. Busana Baju

Meski selalu mengalami perbedaan, namun mayoritas baju yang dipakai oleh penari tari Tor Tor berbentuk kemben yang kemudian ditutup dengan luaran menyerupai rompi dan dihiasi dengan bordir dari benang berwarna emas. Corak dari bordiran ini cukup banyak dan tidak ada ketentuan di dalamnya.

3. Kain Selendang

Para penari juga akan melengkapi diri dengan kain ulos berbentuk selendang. Selendang ini dipakai dengan cara di selempangkan dari bahu hingga menjulur ke bawah sebatas betis kaki. Untuk menahan selendang agar tidak mengganggu gerakan pada umumnya akan ditambah dengan kain sebagai ikat pinggang.

4. Tas Anyaman

Nah, jika cawan merupakan properti Tor Tor Sapitu Cawan berbeda lagi dengan jenis Tor Tor Tandok yang membutuhkan atribut lain berupa tas anyaman. Meski tidak sejak awal tas ini dipakai sebagai properti tari, namun menjelang pertunjukan usai tas anyaman akan menjadi atribut yang dimainkan seiring gerakan tari hingga usai.

5. Cawan atau Mangkok Kecil

Khusus di pertunjukan tari Tor Tor Sapitu Cawan para penari juga memakai cawana tau mangkok kecil sebagai properti tarian. Cawan berfungsi sebagai pendukung saat penari melakukan gerakan tarian yang bisa diletakkan di bagian tubuh penari mulai dari telapak tangan, lengan hingga di atas kepala.

Baca juga: Kebudayaan Suku Batak

Sekarang kamu sudah tahu tentang sejarah tari Tor Tor. Saatnya kamu berbagi kepada teman – teman melalui media sosial yang ada di Komunikasi Daring. Kedepan akan ada banyak lagi tentang suku Batak yang akan di ulas. Dan kami sudah pernah mengulas tentang alat musik tradisional Batak di blog ini.  

2 komentar

Silahkan berkomentar