10 Kebudayaan Suku Jawa, Sejarah dan Contohnya

Diposting pada

Kebudayaan suku Jawa meliputi budaya Jawa Barat, budaya Jawa Tengah dan budaya Jawa Timur serta kebudayaan daerah Yogyakarta adalah kekayaan yang dimiliki oleh negara Indonesia sampai sekarang. Keberadaan budaya Jawa membentuk ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan kebudayaan dari daerah lain, apakah itu budaya yang ada pulau Sumatera atau atau budaya Kalimantan.

Selain sebagai kekayaan, kebudayaan suku Jawa memiliki sejarah yang unik untuk dipelajari. Dimana kebudayaan yang ada sekarang ini merupakan warisan leluhur pada zaman dahulu. Apakah semua budaya Jawa sifatnya orisinil? Ternyata tidak. Kehadiran kebudayaan Jawa sangat dipengaruhi dari ajaran Hindu, Budha dan agama Islam.

Berdasarkan sejarahnya yang dikutip dari laman Wikipedia, di zaman dulu orang Jawa menganut agama Hindu, Buddha dan Kejawen. Tidak hanya menganut, orang Jawa ikut menyebarkan agama Hindu dan Buddha dengan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha Jawa yang berperan. Selain tiu, orang Jawa juga ikut menyebarkan agama Islam dan Kristen atau Katolik di Indonesia. Inilah yang membuat unik Orang Jawa disebabkan menjadi satu satunya suku di Indonesia yang berperan penting dalam menyebarkan 5 agama besar. Seorang peneliti AS Clifford Geertz bahkan pernah meneliti orang Jawa dan membagi orang Jawa menjadi 3 golongan besar yaitu: Abangan, Priyayi dan Santri.

Ada banyak contoh budaya Jawa yang bisa kita temukan melalui berbagai saluran informasi saat ini. Apakah kita membaca buku yang ada diperpustakaan atau beli di toko buku terdekat. Bisa juga diskusi dengan guru yang memahami tenatang budaya Jawa disekolah. Atau yang lebih praktis adalah googling saja di internet, maka semua informasi yang terkait dengan budaya Jawa dengan cepat ditemukan.

Artikel dan makalah kebudayaan suku Jawa yang ada di internet biasanya juga menjelaskan tentang macam-macam budaya Jawa yang kompleks. Mulai dari budaya dalam berbicara, bersosial, berumah tangga, sampai budaya dalam bekerja yang dikenal rajin. Karena rajin dalam bekerja, banyak orang Jawa yang dibutuhkan dalam proyek pembangun yang berada di luar pulau Jawa.

Baca : Usaha Sampingan Untuk Karyawan   

Nah, bicara tentang kebudayaan Jawa, maka kita tidak bisa lepas dari kebudayaan daerah lain yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada juga kebudayaan suku Aceh dan kebudayaan suku Batak serta kebudayaan suku Dayak. Dengan belajar budaya diluar Jawa, kita dapat membedakan dan menarik sebuah kesimpulan. Salah satu kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Indonesia itu benar- benar kaya akan budaya.  

Baiklah, kita akan langsung mebahas tentang kebudayaan suku Jawa yang pernah ada kami berhasil kami kumpulkan. Apa saja itu? Simak infromasinya berikut ini.

1. Batik Jawa

Gambar terkait dengan kebudayaan suku Jawa
Batik Jawa (Google Image)

Pakaian jenis Batik berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Kesenian batik mulai meluas dan menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX.

Pemakaian busana adat Jawa yang bernama batik dalam tradisi Jawa memiliki dua fungsi yaitu fungsi religius dan fungsi sosial. Sebagai fungsi religius Batik merupakan busana resmi keagamaan. Upacara keagamaan kesultanan menampilkan para sultan sebagai sosok pemimpin agama sekaligus menampilkan fungsi batik sebagai pakaian keagamaan, misalnya dalam upacara grebeg.

Selain berfungsi sebagai pakaian religius, batik juga memiliki fungsi sosial sebagaimana terdapat dalam acara tradisional. Batik menampilkan nilai penghormatan terhadap orang lain.

Nilai penghormatan ini ditampilkan dalam busana keprabon (kraton) yang dikenakan sultan saat menerima tamu yang kedudukannya sama atau lebih tinggi. Dalam upacara-upacara lingkup kraton, batik menjadi pakaian yang resmi bagi para tamu dan tuan rumah.

Baca: Adat Istiadat Sumatera Barat

2. Kethoprak

Informasi yang berhubungan dengan kebudayaan suku Jawa
Kethoprak (Blogger)

Ketoprak merupakan seni panggung yang khas terutama melalui ceritanya yang mempertunjukkan kisah-kisah masyakarat Jawa, baik kisah legenda, kepahlawanan, ataupun kehidupan sehari-hari. Ketoprak (kethoprak) adalah kesenian rakyat Jawa yang berasal dari Jawa Tengah, diyakini terlahir di Surakarta dan berkembang pesat di Yogyakarta. Sebuah bentuk teater yang mengandung unsur utama berupa dialog, tembang dan dagelan dengan diiringi oleh Gamelan.

Meskipun dikatakan berasal dari Jawa Tengah, pada kenyataannya kesenian ini berkembang luas dan dinikmati oleh masyarakat di seantero Jawa. Hal ini dikarenakan kebiasaan kelompok Kethoprak menjelajah seluruh daerah di Jawa. Mereka manggung dan membawakan cerita-cerita masyarakat kepada masyarakat lainnya. Dalam hal ini, Ketoprak mengandung unsur pendidikan, komunikasi tentang isu-isu dalam masyarakat sekaligus menjadi hiburan yang digemari.

Baca: Adat Istiadat Maluku

3. Wayang Kulit

Gambar terkait dengan kebudayaan suku Jawa dan sejarahnya
Wayang Kulit (VOA)

Budaya Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata ‘Ma Hyang’ yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna ‘bayangan’, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja.

Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir.

Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.

Baca: Adat Istiadat Suku Melayu

4. Sinden

Sinden (Flickr)

Sebutan Sinden berasal dari kata “Pasindhian” yang berarti “kaya akan lagu” atau “yang melantunkan lagu“. Sehingga Pesinden dapat diartikan seseorang yang melantunkan lagu. Selain itu, Sinden juga biasa di sebut dengan “Waranggana” yang diambil dari gabungan kata “wara” dan “anggana”. Kata wara sendiri berarti seseorang yang berjenis kelamin wanita dan anggana yang berarti sendiri. Karena pada jaman dahulu, waranggana merupakan satu – satunya wanita dalam pentas pagelaran Wayang atau Klenengan.

Sinden adalah sebutan bagi para wanita yang bernyanyi untuk mengikuti iringan Gendhing Gamelan. Sinden sangat identik dengan music Gamelan, karena Sinden biasanya selalu ada pada pertunjukan Wayang atau setiap pertunjukan yang menggunakan iringan music Gamelan. Selain memiliki keahlian vocal yang baik, Sinden juga harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik agar dapat memeriahkan acara.

Baca: Alat Komunikasi Modern

5. Keris

Keris (lawas.net)

Benda Keris merupakan senjata pusaka dalam kebudayaan suku Jawa yang sudah digunakan sejak lebih 600 tahun yang lalu. Senjata keris ini diyakini berasal dari Pulau Jawa sekitar abad ke-9 yang lampau. Hingga abad ke-14, keris juga masih menjadi lambang kebesaran banyak kerajaan di Nusantara, tidak hanya di Pulau Jawa saja. Raja-raja di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, hingga Pulau Sulawesi juga menjadikan keris sebagai lambang kedaulatannya.

Selain sebagai tanda kehebatan seorang raja, dulunya keris juga menjadi alat untuk mempertahankan diri. Bahkan, dalam setiap peperangan, seorang raja ataupun panglima pasti memiliki keris andalan untuk bisa mengalahkan musuh, ataupun dalam menaklukkan kerajaan lain. Banyak yang keris memiliki kekuatan gaib dan kesaktian mandraguna, sehingga menjadikan sejarahnya sangat terkenal, berkat makna keris yang dimilikinya tersebut.

Baca : Senjata Tradisional Jawa Barat

6. Kraton

Kraton (gudeg.net)

Dalam Bahasa Jawa, kata karaton (ke-ratu-an) berasal dari kata dasar ratu yang berarti penguasa. Keraton (Bahasa Jawa: kraton atau karaton) adalah daerah tempat seorang penguasa (raja atau ratu) memerintah atau tempat tinggalnya (istana). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Nusantara. Kata Jawa ratu berkerabat dengan kata dalam Bahasa Melayu; datuk/datu. Dalam Bahasa Jawa sendiri dikenal istilah kedaton yang memiliki akar kata dari datu, di Keraton Surakarta istilah kedaton merujuk kepada kompleks tertutup bagian dalam keraton tempat raja dan putra-putrinya tinggal.

7. Jaipong

Jaipong (pasarayu)

Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipongan di karawang pesat pertumbuhannya di mulai tahun 1976, di tandai dengan munculnya rekaman jaipongan Suanda Group dengan instrument sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, Rebab dan sinden atau juru kawih.

Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indie label) jaipongan mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suanda di wilayah karawang dan sekitarnya. Tak disangka Jaipongan mendapat sambutan hangat, selanjutnya kesenian Jaipongan menjadi sarana hiburan masyarakat karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat karawang dan menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat. Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternative dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek.

8. Angklung

Angklung (olx)

Alat musik Angklung adalah alat musik khas Indonesia yang banyak dijumpai di daerah Jawa Barat. Alat musik tradisional ini terbuat dari tabung-tabung bambu. Sedangkan suara atau nada alat ini dihasilkan dari efek benturan tabung-tabung bambu tersebut dengan cara digoyangkan.

Di lingkungan Kerajaan Sunda (abad ke 12 – abad ke16) , Angklung dimainkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Sri (dewi padi/dewi kesuburan), Selain itu, konon Angklung juga merupakan alat musik yang dimainkan sebagai pemacu semangat dalam peperangan, sebagaimana yang diceritakan dalam Kidung Sunda.

9. Bahasa Jawa (Kuna)

Suku Jawa memiliki bahasa daerah yang disebut dengan Bahasa Jawa. Sebagian besar masyarakat Jawa pada umumnya lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa ini daripada menggunakan bahasa nasional, Bahasa Indonesia, untuk berbicara. Bahasa Jawa memiliki aturan yang berbeda dalam hal intonasi dan kosakata dengan memandang siapa yang berbicara dan siapa lawan bicaranya. Hal ini biasa disebut dengan istilah unggah-ungguh.

Aturan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa dan secara tidak langsung mampu membentuk kesadaran yang kuat akan status sosialnya di tengah masyarakat. Sebagai contoh, di manapun seseorang dari Suku Jawa berada, dia akan tetap hormat kepada yang lebih tua walaupun dia tidak mengenalnya. Unggah-ungguh semacam inilah yang pertama kali dibentuk Suku Jawa melalui keteladanan bahasa.

Masih dari laman Wikipedia, sastra Jawa terbagi menjadi 4 tahapan, yaitu:

9.1.Sastra Jawa Kuna

Sastra Jawa Kuno atau seringkali dieja sebagai Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, dimulai dengan Prasasti Sukabumi.

9.2. Sastra Jawa Tengahan

Sastra ini muncul di Kerajaan Majapahit, mulai dari abad ke-13 sampai kira-kira abad ke-16. Setelah ini, sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali.

9.3. Sastra Jawa Baru

Kurang-lebih sastra ini hadir setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi.

9.4 Sastra Jawa Modern

Sastra ini muncul usai pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi.

10. Kalender Jawa

Kalender Jawa (blogger)

Salah satu kekayaan budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh suku lain adalah Kalender Jawa. Kalender ini merupakan penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram. Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Kalender Saka dan menggantinya dengan Kalender Hijriah dengan penyesuaian budaya Jawa. Kalender Jawa dibuat dengan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha, dan budaya Eropa.

Dalam kalender sistem Jawa, siklus harian yang dipakai ada dua macam, yakni siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu) serta siklus minggu pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Manis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Untuk hitungan bulan, Kalender Jawa juga memiliki 12 bulan, yakni Sura, Supar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.

Baca : 22 Olahraga dan Permainan Tradisional Jawa Barat

Jawa memang unik ya. Kebudayaan suku Jawa begitu banyak dan detail sifatnya. Kita perlu banyak belajar kembali dari keragaman budaya Jawa. Lebih – lebih lagi, kita harus merawat dan mengenalkannya kepada dunia internasional.

Silahkan berkomentar