6 Daftar Ulama Aceh Yang Terkenal dan Kharismatik

Diposting pada

Ulama Aceh yang terkenal dan kharismatik ada banyak jumlahnya. Nama pewaris nabi ini bukan cuma terkenal di nusantara saja, namun mendunia sampai ke Timur Tengah. Zaman kesultanan Turki Utsmani dulu, Aceh merupakan kerajaan yang selalu membangun komunikasi dalam berbagai hal, contohnya saat melawan penjajahan Belanda dengan senjata tradisional Aceh. Ketika itu, Belanda menjajah tidak hanya ingin menguasai lahan (tanah) saja, tapi melarang umat Islam di Aceh untuk beribadah. Bahkan Belanda sampai berani melarang umat Islam Aceh untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Makkah – Madinah.

Jika hubungan antara Aceh dengan Tukri sudah terbangun lama, maka wajar saja jika para ulama Aceh namanya tidak asing bagi dunia. Dan sampai kini, hubungan itu masih terasa meski dalam kondisi yang berbeda. Daerah Aceh sudah tidak lagi menjadi kerajaan, melainkan sudah bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan Turki sekarang menjadi negara yang tidak lagi berbentuk kesultanan.

Bicara tentang Ulama, maka kita bicara tentang bagaimana Aceh mendirikan prinsipnya sebagai sebuah daerah yang kukuh dengan syariat Islam. Hal ini membuktikan peran ulama Aceh sangat erat dalam arah sejarah Aceh itu sendiri. Meski saat ini Aceh difokuskan menjadi daerah wisata, namun konsep wisata syariah (halal) tetap diterapkan. Jika ada yang melanggar akan dikenakan sanksi yang tegas. Inilah keunikan daerah yang bersebelahan dengan propinsi Sumatera Utara.

Baca : Pakaian Adat Aceh  

Baiklah, kita akan perkenalkan satu persatu ulama – ulama Aceh yang terkenal dan penting untuk diketahui. Simak informasinya berikut ini.

1. Syeikh Hamzah Fansuri

Syeikh Hamzah Fansuri (cyberdakwah)

Hamzah Fansuri dilahirkan di Fansur Singkil, Aceh. Beliau hidup pada zaman pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 – 1604 M/997 – 1011 H) hingga awal pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Mahkota Alam. Beliau banyak merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Beliau ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Beliau menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan sayyid mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan beliau lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

2. Syamsuddin As-Sumatrani

Syamsuddin As-Sumatrani (steemit)

Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As Sumatrani; sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya yang utama ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Beliau menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain. Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, beliau memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Semasa hidupnya beliau juga pernah diangkat menjadi qadi malikul adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan).  Beliau mengetuai Balai Gading (balai khusus yang di anggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun beliau berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk musuhnya Syekh Nuruddin. Beliau meninggal dunia pada tahun 1630 M pada zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan beliau dan fatwa-fatwa beliau diantaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Baca : Rumah Adat Aceh

3. Tgk.H. Hasan Krueng Kalee

Hasan Krueng Kalee (wikipedia)

Ulama Aceh Sepanjang Masa Tgk.H.Hasan Krueng kalee merupakan nama seorang ulama besar di Aceh. Beliau lahir pada tanggal 15 Rajab tahun 1303 H (18 April 1886) dalam pengungsian di Meunasah Ketembu, kemukiman Sangeue, kabupaten Pidie setelah tiga belas tahun peperangan dahsyat berkecamuk di Aceh antara prajurit kerajaan beserta rakyat Aceh dengan serdadu-serdadu agresor Belanda.

Ketika dalam pengasingan tersebut, beliau belajar pengetahuan dasar agama langsung dari kedua orangtuanya sambil berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di daerah pengungsian. Dan setelah mempunyai pengetahuan dasar tentang agama Islam yang memadai, bahasa Arab, sejarah Islam dan lain-lain, pada tahun 1906 M, Tgk H.Hasan Kruengkalee yang telah menjadi remaja berangkat ke Yan, Keudah – Malaysia untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang telah beliau pelajari sebelumnya.

Dayah Yan sendiri diketahui sudah sejak lama menjadi pusat pendidikan Islam di Semenanjung tanah Melayu. Para sultan Kerajaan Aceh Darusssalam mengirim ulama-ulama besar kesana untuk membangun dayah sebagai lembaga pendidikan utama untuk daerah-daerah Tanah Seberang. Setelah menamatkan studinya di Dayah Yan, Tgk H.Hasan Kruengkalee yang telah mempunyai pengetahuan agama dan bahasa arab yang cukup, atas persetujuan gurunya pada tahun 1910 berangkat ke tanah suci dalam rangka menunaikan Ibadah H. serta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pada pusat pendidikan Islam di Masjidil Haram Makkah. Disana beliau belajar selama lima tahun, dan yang menjadi gurunya merupakan ulama-ulama besar yang menjadi masyaikh (para guru besar) dalam Masjidil Haram dan sangat terkenal di kota Mekkah.

Sekembalinya beliau pada tahun 1916 beliau langsung mengambil alih pimpinan Dayah Kruengkalee yang sejak peperangan dengan Belanda tidak terurus lagi. Dengan semangat baru yang dihasilkan dari pendidikan selama bertahun-tahun di Mekkah dan didorong oleh jiwa mudanya Tgk.H.M.Hasan Kruengkalee membangun kembali Dayah tersebut. Dalam waktu singkat, Dayah Kruengkalee telah berubah menjadi pusat pendidikan agama Islam terbesar di Aceh sejajar dengan nama-nama besar lainnya seperti; Dayah Tanoh Abee, Dayah Lambirah, Dayah Rumpet, Dayah Jeureula, Dayah Indrapuri, Dayah Pante Geulima, Dayah Tiro dan Dayah Samalanga.

Dalam perkembangan kemudian, Tgk H.Hasan Kruengkalee melalui Dayah yang dikelolanya telah berhasil mencetak banyak kader-kader da’i, pendidik, ulama dan pemimpin umat yang sangat berjasa bagi rakyat Aceh, baik sebagai pembimbing mereka dengan nilai-nilai agama, maupun sebagai pimpinan masyarakat atau sebagai komando dalam jihad fisabilillah melawan agressor Belanda ketika itu. Sebagai lembaga pendidikan Islam, dayah Kruengkalee ini pada dasarnya lebih banyak berperan dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal lainnya seperti sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu.

Selain memimpin Dayah Kruengkalee dan usahanya mencetak ulama Aceh pewaris para Nabi, beliau juga termasuk salah seorang putra Aceh yang ikut aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, beliau juga pernah menjadi anggota konstituante Republik Indonesia dari partai Islam Perti. Tgk H.Hasan Kruengkalee juga pernah mengeluarkan fatwa tentang seruan jihad fi sabilillah untuk melawan Belanda pada tanggal 15 Oktober 1945, dalam rangka mempertahankan Negara Republik Indonesia yang ditangani oleh beberapa ulama Aceh lainnya, diantaranya oleh Tgk H.Hasan Krueng Kalee, Daud Beureueh, Tgk Ja’far Lamjabat dan Tgk H.Ahmad Hasballah Indrapuri, keempat ulama besar Aceh tersebut mengeluarkan fatwa bahwa berperang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia adalah perang sabil dan kalau mati hukumnya mati syahid.

Baca : Makanan Tradisional Aceh

4. Teungku Muhammad Daud Beureueh

Teungku Muhammad Daud Beureueh (wikipedia)

Teungku Muhammad Daud Beureuh atau yang sering disapa Abu Beureueh adalah ulama sekaligus umara (pemimpin) Aceh pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan RI. Jasa dan pengabdiannya tidak bisa dipungkiri untuk Aceh dan Indonesia, merupakan pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Abu Beureueh adalah Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, kemudian memproklamirkan Negara Islam Indonesia hingga terjadinya pemberontakan DI/TII di Aceh pada 1953.

Terlepas dari kontroversinya sosok Abu Beureueh adalah ulama besar dan kharismatik di Aceh. Satu yang terpenting adalah kiprahnya dalam Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), lembaga yang didirikannya pada 1939 terutama kaitannya dengan kaum uleebalang yang didukung pemerintah Belanda. Organisasi inilah yang melawan Belanda dan Jepang di Aceh masa itu. Jadi tidak dapat dipungkiri beliau adalah ulama dan umara besar Aceh yang pernah terlahir.

5. Syeikh Nuruddin Al-Raniri

Syeikh Nuruddin Al-Raniri (harakahislamiyah)

Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644.

Ar Raniri memiliki pengetahuan luas yang meliputi tasawuf, kalam, fikih, hadis, sejarah, dan perbandingan agama. Selama masa hidupnya, ia menulis kurang-lebih 29 kitab, yang paling terkenal adalah “Bustanus al-Salatin”. Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama (IAIN) di Banda Aceh.

6. Syeikh Abdurrauf Singkil (Syaikh Kuala)

sumber wikipedia

Syeikh Abdurrauf singkil adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala). Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13.

Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam. Kitabnya yang berjudul Umtad Al Muhtajin membuka mata kita bagaimana Syeikh Kuala membangun jaringan intelektualnya.

Syeikh Kuala memang bukan nama asing bagi masyarakat Aceh saja. Tetapi dikenal di seantero ranah Melayu dan dunia Islan international. Syeikh Kuala atau Syeikh Abdurauf Singkel adalah tokoh tasawuf juga ahli fikih yang disegani. Lelaki asal Sinkel, Fansur Aceh Utara ini dikenal sebagai salah satu ulama produktif. Karyanya banyak mulai tasawuf hingga fikih. Pengaruhnya sangat besar dalam perkembangan Islam di Nusantara. Tak salah kalau menghormati jasanya namanya diabadikan menjadi nama universitas di Banda Aceh.

Setelah tamat kemudian meneruskan pengajian ke sekolah Samudra Pasai yang dipimpin oleh Syeikh Syamsuddin As Samathrani. Sewaktu Syamsuddin diangkat menjadi Qadli Malikul Adil (Kadi Besar) pada zaman Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah, Abdurrauf bertolak ke Mekah dan merantau ke beberapa buah negara Asia Barat lain untuk mendalami ilmu di sana.

Baca : Rental Mobil di Aceh

Demikian kami sampaikan tentang nama – nama ulama Aceh yang terkenal. Sampai kini masih banyak umat Islam dari Medan, Padang dan luar negeri yang datang ziarah ke makam para ulama di Aceh. Sebetulnya masih banyak lagi ulama Tanah Rencong ini yang tidak terekspose di media. Baik ulama sufi atau ulama pergerakan. Dilain waktu akan kita sempurnakan lagi informasinya. Semoga bermanfaat.

3 komentar

Silahkan berkomentar