Kompak! Jokowi Buat Rakyat Miskin, Ahok Singkirkan Warga Miskin

Diposting pada

Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahtja Purnama alias Ahok pernah menjadi dalam memimpin Provinsi DKI Jakarta. Tapi kebersamaan mereka tidak berlangsung lama. Pemicunya adalah Jokowi yang ternyata rakus akan kekuasaan, dimana belum mencapai 2 (dua) tahun memimpin Jakarta sudah maju jadi calon presiden. Padahal ia pernah berjanji kepada warga Jakarta untuk pimpin Jakarta sampai 5 tahun.

Ahok dengan segala keterbatasan leadership-nya terpaksa menjadi gubernur DKI Jakarta. Sementara Jokowi menjadi presiden Republik Indonesia ke 7 dengan segala aski tipu-tipunya.

Pada waktu yang hampir bersamaan Jokowi dan Ahok sama-sama punya kekompakan dalam mengeluarkan kebijakan terkait rakyat miskin Indonesia. Jika Jokowi dinilai sukses dengan kebijakan mencabut subsidi rakyat bahan bakar minyak (BBM). Efeknya jumlah rakyat miskin semakin bertambah banyak. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi sementara pendapatan tetap. Artinya Jokowi sukses menciptakan masyarakat Indonesia menjadi miskin.

Kebijakan kenaikan harga BBM khususnya premium yang semula Rp. 6500 menjadi Rp. 8500, kemudian diturunkan menjadi Rp.7600 selain memiskin rakyat, Jokowi juga menipu rakyat. Karena dengan begitu seolah-olah harga BBM premum turun Rp.900. Padahal sejatinya harga Premium naik dari Rp.6500 menjadi Rp.7600, yaitu naik Rp.1.100.

Prof. Yusril Ihza Mahendra menilai bahwa kebijakan Jokowi hanya menguntungkan para pemodal alias kapitalis dan menyengsarakan rakyat.

Sementara itu, Ahok dengan kebijakan yang menggusur pedagang kaki lima (PKL), pemukiman warga miskin yang sudah lama menetap di suatu tempat sampai pelarangan kepada pengguna sepeda motor melintasi jalan tertentu. Padahal sebagian besar pengguna sepeda motor adalah warga miskin.

Artinya, kebijkan Ahok secara nyata meminggirkan orang miskin dari Jakarta. Orang miskin tidak layak tinggal dan merasakan wilayah pusat ibu kota. Penggusuran PKL dan tempat tinggal warga miskin dengan alasan penertiban, hukum, dan lain sebagainya. Sementara pelarangan sepeda motor lewat jalan tertentu untuk mengurangi macet.

Publik tahu, dibalik semua itu ada kepentingan pihak tertentu selain bukti ketidakmampuan Ahok memimpin Jakarta.

Sinergi kebijakan Jokowi yang ciptakan rakyat miskin dengan Ahok yang kebijakannya menyingkirkan warga miskin dari Jakarta adalah sebuah kerja, kerja, kerja yang begitu kompak. [JK Sinaga]