Ini Sikap ‘Aneh’ PDIP, Kubu Jokowi Jika Kalah Dalam Pertarungan Politik

Diposting pada

Kemenangan PDIP dalam pemilihan legislatif (Pileg) 2014 yang lalu sepertinya memberikan “angin segar” bagi rakyat Indonesia. Selain memenangkan Pileg, PDIP pun memenangkan calonnya maju menjadi presiden terpilih, dialah Joko Widodo alias Jokowi yang di kenal sangat taat dengan “titah” Megawati. Mungkin itu yang membuat Megawati pun “suka” kepada Jokowi.

Berita dan gambar Mega, Jokowi dan Puan terkait dengan lemahnya komunikasi PDIP di parlemen

Menang di Pileg untuk tahun 2014 dan memang di Pilpres 2014 juga, seharusnya bisa membuat partai ini menjadi lebih berwibawa di mata rakyat. Dan semestinya kerja-kerja Jokowi juga diharapkan mampu mensejahterakan rakyat Indonesia. Memang, ada sebagian rakyat ada yakin bahwa PDIP dan Jokowi bisa merubah Indonesia kearah yang lebih baik.

Namun harus juga di akui bersama, PDIP pun dikenal sebagai “partai juara korupsi”, banyak kadernya yang terjerat kasus korupsi, bahkan beredar kabar tiga kadernya gagal di lantik jadi anggota DPR RI karena tersandung kasus korupsi. Tentu saja kejadian tersebut membuat sebagian besar rakyat Indonesia ragu dengan kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla. Simple-nya, bagaimana sapu kotor bisa membersihkan? Kini PDIP dikenal sebagai partai pendukung pemerintahan Jokowi-JK setelah 10 tahun jadi oposisi.

Nah, jika kita ikuti perkembangan politik sekarang di Indonesia, dimana terjadi 2 kubu yang saling bersaing, ada kubu Koalisi Merah Putih (KMP) dan Kubu Koalisi Indonesia Hebat punya Jokowi. Uniknya, dalam beberapa pertarungan politik di parlemen, kubu Jokowi selalu mengalami kekalahan yang bertubi-tubi. Sehingga banyak rakyat yang menyindir kubu Jokowi dengan kalimat: “Salam Gigit Jari” sebagai plesetan dari “Salam Dua Jari”.

Kemudian, yang membuat aneh adalah: jika kubu Prabowo kalah, maka kubu Jokowi meminta Prabowo dan pendukungnya untuk legowo, seperti dalam sengketa Pilpres 2014 kemarin. Dimana kubu Prabowo dinilai sebagai kubu yang tidak legowo oleh Jokowi-JK dan sekutunya. Hal ini ternyata tidak berlaku bagi kubu Jokowi jika mengalami kekalahan. Adapun peristiwa kekalahan yang dialami oeh kubu Jokowi seperti, UU MD3, UU Pilkada, UU Jaminan Produk Halal dan yang paling menghebohkan adalah pemilihan pimpinan DPR RI.

Untuk UU MD3, pihak PDIP sudah melayangkan gugatan ke MK, namun di tolak oleh MK. Kemudian PDIP pun tidak legowo dengan keputusan MK tersebut.
Singkatnya, berikut adalah sikap PDIP dan Kubu Jokowi jika alami kekalahan dalam pertarungan politik.

#1. Puan Maharani mengatakan kekalahan dalam pemilihan pimpinan DPR karena hak PDIP dirampas.

puan maharani berkata Pimpinan DPR Hak kami yang di rampas

#2. Setelah kalah di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait UU MD3, PDIP berencana gugat Hakim MK ke Dewan Etik. Hal itu disampaikan oleh Ketua DPP Bidang Hukum PDIP Trimedya Panjaitan.

PDIP akan gugat Hakim MK karena menolak gugatan PDIP terkait UU MD3

#3.  Adian Napitupulu menyebutkan kalimat: “Bajingan Kalian Semua” di Twitter terkait dengan kekelahan koalisi Indonesia Hebat di parlemen dalam pemilihan pimpinan DPR.

Kiacauan adian napitupulu

#4. Menyalahkan Pihak lain, Seperti Demokrat dan SBY

Kekalahan koalisi Indonesia hebat di parlemen anehnya mencari malah kambing hitam. Seperti RUU Pilkada, PDIP malah menyalahkan partai Demokrat yang “walk out”, dan SBY jadi sasaran. Padahal banyak politisi Demokrat yang juga menyalahkan PDIP, jadi siapa yang benar? Bahkan ada politisi Demokrat yang menantang PDIP untuk membuka rekaman hasil pembicaraan di lobi. Apa tanggapan PDIP? Tak berani. Inilah mental pecundang.

Juga dalam pemilihan Pimpinan DPR, lagi-lagi PDIP salahkan Demokrat dan SBY. Politisi  PDIP menuding SBY susah di ajak komunikasi dan jual mahal. Padahal sesungguhnya semua itu terjadi karena komunikasi politik PDIP yang dinilai lemah, sehingga bisa mengakibatkan kekalahan beruntun.


Dari sikap PDIP di atas, apakah wajar jika mereka menyuruh pihak lain legowo padahal mereka saja tidak bisa legowo dengan kekalahan?

Padahal sebagai partai yang sudah tua, seharusnya PDIP bisa lebih dewasa dalam menghadapi kekalahan yang melanda, ambil saja hikmahnya. Sudah saatnya PDIP dan kubu Jokowi bisa legowo. Sebagaimana dulu Prabowo di suruh legowo. Perlu diketahui, bahwa banyak para pengamat menyatakan bahwa kekalahan koalisi Indonesia Hebat di parlemen adalah bukti kelemahan komunikasi politik Megawati dan PDIP, lembaga CSIS salah satunya yang menyatakan hal tersebut. (Baca, Kubu Jokowi Semakin Gigit Jari dan Dicaci Maki Sama CSIS).

Seperti komentar Tifatul Sembiring, Politisi PKS di media online yang memberikan nasehat politik kepada PDIP agar lebih dewasa dalam berpolitik.

“Kami imbau lebih dewasa lagi berpolitik, kalau sudah diambil keputusan seharusnya (koalisi PDIP) diam,” kata Tifatul.

Tapi itulah karakter (baca:akhlak) PDIP dan kubu Jokowi, mau bagaimana lagi. Sampai sekarang mereka tidak bisa legowo dengan kemenangan Koalisi Merah Putih. Dan memang dulunya pun begitu, semua kebijakan SBY selalu di protes oleh PDIP dan Megawati, tak peduli benar atau salah. Hal ini mencerminkan bahwa PDIP memang belum matang dalam berpolitik, wajar saja jika tidak akan pernah legowo dengan kekalahannya.

Semoga saja rakyat bisa menilai sendiri dengan pikiran jernih, mana partai politik yang benar-benar serius untuk rakyat dan mana yang cuma janji saja. Mana politisi yang santun dan mana yang “kreak”. Dengan begitu rakyat bisa memvonis mana parpol yang layak dijadikan rujukan dan mana yang tidak. Semoga.

4 komentar

Silahkan berkomentar