Jika Israel “Ngeyel” Tentang Blokade, Perang Akan Berulang Kembali, Padahal 65% Warga Zionis Gundah Gulana

Diposting pada

Para Pejuang Palestina menjadikan harga mati untuk pembukaan blokade di perbatasan Jalur Gaza dengan Mesir dan Israel. Jika Israel tetap “ngeyel” alias tidak melakukan hal tersebut, maka perang tidak bisa di hindari.

Paling tidak itulah yang di sampaikan oleh Pimpinan Hamas, Musa Abu Marzuq yang mengatakan, gerakannya tidak ingin menggelar perang lagi dengan ‘Israel’. Namun perang baru menjadi tidak bisa dihindari jika tidak bisa disepakati untuk mengakhiri penutupan perlintasan di perbatasan Jalur Gaza  dengan Mesir dan ‘Israel’, seperti dilansir oleh Silontong, Minggu (21/9/2014) dari laman Info Palestina.

Dalam dialognya dengan kantor berita Asosiated Press, Abu Marzuq keukeuh Hamas telah memenangkan peperangan meski ada pukulan-pukulan militer yang tanpak di perlawanan Palestina.

Ia mengatakan, popularitas Hamas semakin naik di kalangan warga Palestina dan bisa mengalahkan Abbas dan Fatah jika digelar pemilu hari ini.

Abu Marzuq memperingatkan bahwa kegagalan dalam perundingan di Gaza antara Fatah dan Hamas dan kegagalan pembukaan blokade bisa menyebabkan perang baru. Ia menambahkan, kami tidak ingin perang dan saya yakin ‘Israel’ tidak ingin melihat ada perang baru.

Pimpinan Hamas ini menandaskan, rakyat Palestina di Jalur Gaza  mengalami kehidupan sulit sebelum perang akibat blokade dan pihaknya tidak mampu meletakkan Palestina dalam kondisi yang sama paska perang sehingga ‘Israel’ harus mengubah politiknya.

Sebanyak 65% Warga Zionis Gundah Gulana akan Masa Depan Ekonominya

Mungkin dunia hanya terfokus pada penderitaan yang di alami rakyat Gaza saja, padahal warga Zionis pun mengalami masalah yang lebih buruk. Artinya warga Zionis selalu merasa terancam masa depannya, khusus dalam bidang ekonominya. Dan ini menjadi permasalahan akut di Israel yang belum dijumpai solusinya.

Hasil polling sosial yang diadakan tiap tahun oleh Pusat Catatn sipil Palestina yang dilansir Kamis (18/9) menyebutkan, ada kekhawatiran yang sangat dari mayoritas warga Zionis terkait masa depan ekonominya, masih dari laman Info Palestina.

Divisi pencatatan sipil Zionis menjaring responden selama dua bulan terakhir, sejak Januari 2013 pihaknya menyebarkan angket sejak bulan Desember hingga Januari 2013. Mereka juga telah mewancarai sejumkah 7400 orang yang berusia diatas 20 tahun atau kurang lebih lima juta jiwa.

Hasil polling menunjukan, tiga juta jiwa atau 66%  dan 53% warga Arab di Israel mengungkapkan kekhawatiranya untuk bisa hidup layak di Israel dimasa yang akan datang. sementara sebanyak 52 % atau 2,6 Juta jiwa mengungkapkan kekhawatiran ekomominya di masa yang datang.

Prosentase penurun ekonomi mereka dari tahun 2010 sebanyak 10% hingga tahun 2013 meningkat menjadi 17 %. Kekhawatiran yang sangat sekitar 13 % dialami para pekerja yang mengkhawatirkan akan kehilangan pekerjaanya di masa yang akan datang. padahal sebelumnya tahun 2010 jumlah mereka hanya 10 % saja.

Sekitar 40 % atau 1,3 Juta jiwa para pekerja Zionis memperkirakan mereka akan kehilangan pekerjaanya. Mereka sangat psimistis kondisi ini dimasa yang akan datang.