Mereka Yang Jadi “NGERI” Setelah Berkiblat Ke Jokowi

Diposting pada

Indonesia kaya akan orang yang pintar, cerdas, pengamat, pendidik dan yang lain. Masyarakat bisa banyak belajar dari para orang-orang tersebut.

Namun apa yang terjadi jika orang-orang yang di anggap menjadi teladan kini sudah terlihat ngeri?

Tulisan ini akan menggulas mereka yang kini tampil mengerikan itu, padahal dulunya (mungkin) tidak. Dulu mereka di kenal santun, dan menarik untuk dijadikan panutan.

Mereka adalah:

#1. Anies Baswedan

Anies yang sempat mengkritik gaya blusukan Jokowi sewaktu belum gabung bersama Jokowi. Namun setelah menjadi orang yang dipercayakan Jokowi, Anies tampil beda. Semua kesalahan Jokowi tidak lagi di kritiknya. Bahkan banyak yang menilai Anies sudah menjilat ludahnya sendiri. (Baca, Anies jilat ludah sendiri).

Ada beberapa kejadian yang penting menjadi sorotan.

a. Anies pernah mengkritik Prabowo Subianto karena mengatakan bocor 1000 Triliun APBN Indonesia. Anies dengan percaya diri menepis pernyataan Prabowo. Tapi ketika Jokowi pernah menyinggung bahwa APBN bocor, Anies diam. Ter-la-lu!

Bahkan di bulan September 2014, Tim Transisi Jokowi-JK (Anies termasuk) menyatakan bahwa dari lembaga pajak saja, ada potensi 1000 triliun APBN bocor. (Baca: Anies dan kebocoran)

b. Diketahui bahwa, Anies punya jabatan Strategis di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu Ketua Komite Etik KPK dan sampai saat ini belum mau mengundurkan diri. Hal ini membuat Anies semakin mengerikan, karena potensi konflik kepentingan bisa terjadi. Dimana posisi Anies adalah afiliasinya Jokowi-JK.

Sebaiknya Anies mengundurkan diri dari jabatan Ketua Komite Etik KPK. Jika tidak, maka wajar jika kesantunan politik tidak di miliki oleh Rektor Paramadina tersebut. Dan hancur sudah tatanan kenegaraan Indonesia karena ulah Anies Baswedan. Dan ini sangat mengerikan bukan?

Apatah lagi, Jokowi di duga terlibat dalan korupsi terkait kasus bus Trans Jakarta. Selain itu Abraham Samad juga pernah berjanji akan memanggil Megawati Soekarno Putri setelah lebaran 1435 Hijriah, namun sampai sudah mau lebarah Haji, belum juga di lakukan Ketua KPK tersebut. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Anies Baswedan? Sebagai Ketua Komite Etik KPK seharusnya Anies mengingatkan Abraham sudah pernah janji, itukan melanggar etik, kok Anies bungkam!

#2. Ade Armando

Ade Armando yang berprofesi sebagai dosen Universitas Indonesia (UI) pun tidak kalah mengerikan. Pasalnya, ucapannya sangat jauh dari nilai-nilai luhur  dan ilmiah. Gayanya dalam berkomunikasi lebih pantas ia menjadi preman daripada jadi dosen.

Sepertinya dulu tidak begitu, dan kayaknya setelah berkiblat kepada Jokowi menjadi seperti itu.

Ade pernah sesumbar dengan berkata: “Potong Leher Saya jika Jokowi Kalah!”. Ya kalau mau mendukung ya dukung saja, namun pernyataan tersebut mencerminkan seperti orang yang tidak punya pendidikan, padahal ia seorang dosen.

Dan baru ini-ini, tepat di bulan September 2014, Ade berkicau di twitter dengan bahasa yang kacau dan mengerikan. Seperti berikut ini.

” Ya Allah, kapankah PKS akan berhenti menjadi pelacur yang bertindak sesuai permintaan pengguna…”

” Mereka yang mengupayakan pilkada lewat DPRD adalah ibarat babi rakus yang najis hukumnya hidup di Indonesia . . .”

Apakah pantas seorang yang katanya pendidik berkata seperti itu? Kalau saya menjadi mahasiswanya, saya pecat ia jadi dosen. Sungguh mengerikan!

#3. Burhanuddin Muhtadi

Orang ini pun sudah melampaui batas, sesumbarnya menganggap hasil surveinya yang paling benar dan menganulir keputusan KPU jika mengalahkan Jokowi-JK.

Seperti dilansir dari laman Republika (15 Juli 2014), pernyataan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi menuai banyak komentar berbagai pihak. Dia menyatakan, jika hasil quick count berbeda dengan hitungan KPU maka patut diduga ada kejanggalan dalam rekapitulasi yang dilakukan penyelenggara pemilu.

Pernyataan Burhanuddin mungkin punya alasan yang ada, namun akibat dari pernyataan tersebut, banyak yang menilai Burhanuddin sudah berubah. Sepatutnya jangan berkata seperti itu, karena jika pun quick count itu benar, maka kebenarannya kan bukan kebenaran mutlak, kebenaran versi buatan manusia, bukan buatan Allah. Manusia adalah penuh dengan kelemahan.

Banyak orang saat ini menjadi ngeri melihat Burhanuddin Muhtadi seteleh berkiblat ke Jokowi, padahal dulunya…

Tapi sudahlah, toh mereka yang sudah berubah akan merasakan sendiri akibatnya, jika bukan di dunia mungkin di akhirat. Semoga rakyat Indonesia cepat sadar dalam memilih panutan, jangan sampai orang-orang yang mengerikan dijadikan panutan, bisa bahaya.

Nah, apa yang salah dengan Jokowi? (baca, Untuk apa cari-cari kesalahan Jokowi)