43 Intel Militer Israel Menolak Kembali Bertugas, Apa Sebabnya?

Diposting pada

Dari tentaranya yang trauma, stress, di rehabilitasi, masa depan suram, dan masih banyak lagi masalah akut yang di alami Israel seputar prajurit perang untuk melawan Palestina. Hal ini jika tidak segera di atasi dengan baik, maka kemampuan perang Israel akan dengan mudah di kalahkan (lagi) oleh Pejuang Palestina yang terus melakukan konsolidasi yang baik.

Dan kali ini Israel mendapat musibah dengan mundur intel militer yang punya posisi strategis. Ada sebanyak 43 veteran intelejen militer Israel menolak kembali bertugas di wilayah Palestina, karena merasa berdosa mematai-matai warga tak bersalah, seperti dilansir Inilah, Sabtu (13/11/14).

Penolakan disampaikan dalam surat terbuka yang dipublikan sebuah koran berbahasa Ibrani terbitan Tel Aviv. Surat ditanda-tangani 43 veteran dan reservist.

Mereka terdiri dari petugas, mantan instruktur, dan bintara senior, dari unit khusus intelejen militer bernama Unit 8200 — dalam bahasa Ibrani disebut Yehida Shmoneh-Matayim.

Unit ini terpisah dari Mossad. Di AS dan Inggris, unit ini setara dengan NSA dan GCHQ.

Semula mereka bertugas mengumpulkan data orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap pendudukan, dan menciptakan perpecahan di kalangan penduduk Palestina. Militer Israel akan menciduk orang-orang yang diidentifikasi Unit 8200, dan menganiayanya secara politik.

Tugas terbesar Unit 8200 adalah penyadapan komunikasi elektronik, membobol email, menguping pembicaraan telepon, dan memelototi media sosial. Tugas tambahannya, mematai-matai lalu-lintas militer dan diplomatik.

Para pembangkang mengatakan sebagian besar tugas mereka tidak berhubungan dengan keamanan Israel, tapi untuk mengendalikan seluruh aspek kehidupan masyarakat Palestina.

“Kami veteran Unit 8200 menolak ambil bagian dalam tindakan terhadap warga Palestina dan menjadi alat penguasaan militer Israel atas wilayah pendudukan,” demikian bunyi surat itu.

“Populasi Palestina di wilayah pendudukan benar-benar menjadi korban spionase Israel,” lanjut mereka.

Di masyarakat Israel, Unit 8200 paling bergengsi. Sebagaian besar orang Yahudi yang pernah bertugas di unit ini bekerja di sektor teknologi tinggi, dan memiliki karier militer yang mulus sampai ke jenjang tertinggi.

Haaretz menulis puluhan mantan Unit 8200 menduduki posisi birokrasi bergengsi di Israel, hampir di semua sektor; pengadilan, kementerian keuangan, eksekutif perusahaan, perusahaan jasa akuntansi terbesar di Israel, ilmuwan, dan mengisi portofolio menteri ekonomi dalam setiap kabinet Israel.

Terdapat kesan, Unit 8200 adalah orang-orang pilihan dengan kecerdasan luar biasa.