Kenapa PP No.61/2014 Tentang Aborsi harus di Tolak?

Diposting pada

Berdosakah bayi yang ada dalam janin wanita walau itu hasil perkosaan? Pantaskah nyawa bayi yang ada dalam janin itu di bunuh? Kenapa Bayi yang tidak berdosa dihilangkan nyawanya, sementara pelakunya tidak?

Kabar dan gambar Perkembangan bayi di dalam kandungan selama 40 hari
Ilustrasi

Pertanyaan sebagai harus dijawab oleh pemerintah, karena melalui kebijakannya mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang didalamnya termatub aturan ‘legalisasi aborsi’. Walau dengan berbagai alasan yang diajukan pemerintah, tetap saja PP no 61/ 2014 tersebut mendapat kritik yang tajam dari banyak kalangan masyarakat Indonesia.

Adalah seorang guru Madrasah Diniyah, Puji Astutik menulis sebuah artikel yang berjudul: “Bahaya di Balik PP NO 61 Tahun 2014”. Artikel tersebut di muat pada laman Islampos, Sabtu, 16 Agustus 2014.

Setelah Silontong (16/8) membacanya, ternyata ada ‘ruh’ dalam artikel warga Kabupaten Trenggalek Jawa Timur tersebut. Sehingga dengan ‘haqqul yaqin’ Silontong pun mempublikasikan pada blog ini dan berharap pembaca juga bisa membaca serta menghayati maknanya.

Berikut isi dari artikel yang berjudul:


 

Bahaya di Balik PP NO 61 Tahun 2014
Oleh: Puji Astutik, Guru Madrasah Diniyah. Tinggal di Kabupaten Trenggalek Jawa Timur

Siapa yang tidak terluka bila mahkota yang senantiasa dijaga, dinodai oleh orang yang tidak dicintai? Tentu sakit, pedih dan sedih yang mungkin sulit disembuhkan. Kita berlindung dari hal yang demikian. Namun bila semuanya sudah terjadi benarkah membunuh janin yang direstui Tuhan untuk bersemanyam dalam tubuh si wanita tersebut satu-satunya penyembuh luka itu?

Pemerintah memberikan perhatiannya terhadap janin hasil pemerkosaan dengan mengeluarkan PP No 61 Tahun 2014 yang ditanda tangani Presiden Susilo Bambang Yudoyono tanggal 21 Juli 2014. Dalam PP tersebut pemerintah melegalkan aborsi bagi bayi hasil pemerkosaan. Kita hormati PP ini, namun sebagai warga negara yang peduli terhadap masa depan bangsa wajib melakukan koreksi terhadap kebijakan pemerintah yang sekiranya bisa membawa dampak buruk bagi kehidupan masyarakat selanjutnya.

Kritis Terhadap Kebijakan Pemerintah Tanda Peduli

Sebagian rakyat yang peduli dengan nasib bangsa memberikan respon beragam dengan adanya PP No 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang didalamnya melegalkan pembunuhan terhadap janin hasil pemerkosaan yang usianya maksimal 40 hari. Arist Merdeka Sirait sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak menolak PP No 61 Tahun 2014 tersebut dengan alasan bertentangan dengan Pasal 1 UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002. (okezone, 14/8/2014). Dalam UU Perlindungan Anak, bayi yang masih dalam kandungan berhak mendapat perlindungan hidup. Penolakan terhadap PP No 61 Tahun 2014 ini juga disampaikan oleh Kapolri Jendral Sutarman yang menyebut bahwa pelegalan aborsi akan membawa bahaya bagi kehidupan. (okezone, 14/8/2014).

Penolakan juga datang dari ormas Islam seperti HTI dan tokoh lainnya. Masyarakatpun juga khawatir apabila PP ini akan dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang sebenarnya hamil akibat sek bebas mengaku sebagai hasil perkosaan. Demikian pula dikhawatirkan PP ini akan menyemarakkan perkosaan dengan alasan bayi hasil perkosaan legal diaborsi. Ikatan Dokter Indonesia ternyata juga menolak PP No 61 Tahun 2014 ini. Ketua IDI Zainal Abidin menyebutkan bahwa PP No 61 Tahun 2014 tersebut bertentangan dengan Sumpah Dokter untuk melestarikan kehidupan. (republika, 14/8/2014)

Menyikapi penolakan dari berbagai pihak, Menkes akan menyiapkan peraturan teknis agar PP No 61 tahun 2014 ini tidak disalah gunakan oleh pihak-pihak tertentu. Pengawasan dan pelaksanaan praktek aborsi harus diperketat, demikian masukan dari beberapa pihak yang berharap PP ini untuk tetap diberlakukan.

Aborsi Menyembuhkan Lukakah?

Kekhawatiran berbagai pihak terhadap PP No 61 tahun 2014 ini sangat berasalan. Karena fakta lapangan menunjukkan bahwa praktek aborsi yang tercatat hari demi hari terus meningkat. Data dari Komisi Perlindungan Anak pada tahun 2011 ada 86 kasus dan meningkat menjadi 121 kasus pada tahun 2012. Dan kenyataan menunjukkan bahwa pelaku aborsi tersebut adalah anak usia dibawah 18 tahun sebagai akibat gaul bebas yang menjadi life style remaja saat ini. (tempo.com,31/1/2013). Apabila PP No 61 tahun 2014 ini benar-benar diberlakukan maka kasus aborsi itu sangat dimungkinkan meningkat lagi. Dengan kata lain akan bermunculan aktivis aborsi di negeri ini.

Bila aborsi dilegalkan maka kemanusiaan manusia Indonesia perlu dipertanyakan. Bukan salah janin yang ada dirahim bila ia ada. Tapi salah manusianya mengapa melakukan sek bebas yang berakibat kehamilan yang tidak dikehendaki. Dan bila janin itu ada akibat pemerkosaan, itu juga bukan salah janinnya. Tapi kesalahan pelaku pemerkosaan. Kenapa janin yang harus dibunuh? Kenapa bukan pelaku pemerkosaan yang mendapatkan hukuman yang mematikan sehingga membuat orang jera melakukan pemerkosaan?

Wanita yang diperkosa memang hancur hatinya, luka batinnya, dan trauma mendalam yang mungkin sulit dilupakan seumur hidupnya. Tapi benarkah dengan membunuh janin yang ada dalam rahim si wanita tersebut kemudian menjadikannya hidup tenang? Lukanya terobati? Batinnya gembira? Atau malah bertambah beban psikisnya karena merasa berdosa membunuh janin yang tiada dosa? Inilah yang harus difikirkan dan kaji ulang oleh semua pihak. Masa depan negeri ini ada ditangan orang Kutipan artikel Bahaya PP No.61 tahun 2014yang saat ini menata bangsa ini. Kesalahan kebijakan akan berisiko terhadap kejayaan bangsa ini. Dan sebagai negara yang berketuhanan tentunya rakyat negeri ini mengimani adanya kehidupan akhirat. Sehingga setiap kebijakan pemerintahpun menentukan nasib masa depan rakyatnya diakhirat kelak.

Kembali ke Jalan Allah SWT

Bayi yang ada didalam rahim seorang wanita adalah amanat Allah SWT. Karena amanat maka pahala yang besar bagi para wanita yang menjaga amanat itu. Allah SWT berfirman, “…Dan tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir…” (QS. Al Baqarah: 228). Adapun menggugurkannya dalam berbagai usia tidaklah boleh. Karena hak kematian itu belum ada pada si janin. Adapun jika setelah diperiksa dokter yang beriman dan kompeten menyatakan keberadaan janin dapat membawa kematian ibu maka menurut mayoritas ulama diperbolehkan menggugurkannya. Namun jika alasan penggugurannya karena takut tidak bisa membiayai kebutuhannya nanti ketika lahir maka hal yang demikian tidak dibenarkan.

Alam materialistik sekuleristik seperti saat ini memang telah banyak menghapus keyakinan manusia akan kemuliaan yang sesungguhnya. Derap kebebasaan, kehidupan gelamor dianggap sebagai media penghantar kemuliaan. Padahal fakta didepan mata menunjukkan pergaulan bebas menghantarkan pada kehamilan, aborsi, kematian dan kehancuran moral manusia.

Pamer aurat telah merangsang hasrat seksual laki-laki buas untuk melakukan kekerasan seksual, pemerkosaan, dan pelecehan seksual lainnya kepada wanita. Dan bukankah gaul bebas, pamer aurat, dan aksi porno lainnya itu perbuatan yang melanggar ketentuan syariat? Maka menatap masalah dengan iman inilah yang harus dilakukan oleh seluruh komponen dinegeri ini. Mulai dari penguasa hingga rakyat biasa, sadarlah bahwa meninggalkan satu syariat Allah swt dalam kehidupan akan membawa efek buruk dalam beberapa ranah kehidupan laenya.

Dengan demikian, melegalkan aborsi jelas bukan solusi. Penyebab kehamilan yang tidak di inginkan inilah yang harus dicari sebabnya. Karena kehamilan hanyalah akibat. Kenapa pemerkosaan terjadi? Kenapa hamil diluar nikah terjadi? Dan jawaban dari itu adalah karena ditinggalkannya syariat agama oleh manusia dan dijadikannya keinginan, peraturan dan nafsu manusia sebagai hukum.

Maka sadarlah wahai manusia, hanya dengan kembali ke jalan Rabb kalian maka bumi ini akan damai dan hidup akan diberkahi, sehingga kebaikan dunia akhirat itu dapat teraih. Jadi terapkan syariat Allah dalam kehidupan pribadi, letakkan syariat sebagai standar hidup. Demikian pula kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus diatur dengan syariat Allah swt.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raaf: 96). Wallahua’lam bis showwab.


Apakah pembaca yang budiman setuju dengan PP No. 61 Tahun 2011? Berikan komentar donk!

Silahkan berkomentar