70 Milyar Dollar Biaya Perang Militer Israel!?

Diposting pada

Tampaknya pemerintah Israel harus ‘ngerogoh kocek’ dalam-dalam karena biaya perang militer Israel terus naik jumlahnya. Namun belum memberikan hasil yang seimbang. Pejuang Palestina telah berhasil membuat Zionis Israel bangkrut.

Dari laman Islampos, Senin (11/8) mengabarkan bahwa Departemen militer Israel dilaporkan telah meminta pemerintah Netanyahu untuk menambah anggran militernya hingga 8 milyar shekel (2,34 miliar USD), menyusul Kabar dan gambar ttg Militer Israel yang minta anggaran perang di naikkan menjadi 17 persenberlanjutnya agresi Israel ke Gaza, Haarez melaporkan.

Pejabat militer Israel sebelumnya telah memintah 2 miliar USD kepada pemerintahnya untuk menutupi beban biaya akibat perang ke Gaza, ditambah 11 milyar shekel lagi untuk menempatkan pasukan tentara di garis perbatasan sekitar Gaza.

Dani Harael, pejabat yang berada di lingkungan departemen militer Israel dalam pertemuannya dengan komite anggaran Israel, Locker telah meminta tambahan 11 milyar shekel selama tahun 2015 di luar anggaran tahun ini sebesar 18 milyar dollar.

Haaretz menambahkan bahwa anggaran militer Israel akan meningkat menjadi 70 milyar dollar atau sekitar 17 % dari anggaran belanja negara pertahun. Jumlah ini merupakan yang terbesar dalam sejarah anggaran militer Israel.

Diperkirakan, menteri keuangan Zionis akan menyetujui permintaan ini setelah mendapat persetujuan pemerintah.

Dilema Melanda Zionis Israel

Pihak Israel sedang mengalami dilema, di satu sisi jika menyetujui gencatan senjata yang di tawarkan Pejuang Palestina, maka harus bersedia menuruti apa tuntutan Palestina, diantaranya buka blokade, pembebasan tahanan Palestina, mengembalikan hak-hak warga Palestina. Hal ini akan membuat Israel malu kepada dunia jika di lakukan.

Sementara disisi lain, jika tidak menyetujui isi gencatan senajata, maka harus terus berperang dengan menelan biaya yang jumlahnya sangat fantastis, yaitu mencapai 70 Milyar. Hal ini tentu menjadi beban bagi pemerintahan Israel, dimana sedang mengalami banyak kerugian diberbagai sektor perekonomian. Lalu, apakah Amerika Serikat masih mau membantu?

Silahkan berkomentar