Inilah Konspirasi Segitiga: Arab, Amerika, Israel Serang Hamas

Diposting pada

Dikabarkan bahwa banyak negara Arab yang masih bisa tidur nyenyak ketika ribuan nyawa melayang di Gaza, Palestina.  Wajar saja jika sampai saat ini gencatan senjata permanen belum juga tercapai, karena persekongkolan segitiga antara Arab, Amerika dan Israel nyata terlihat.
Berita Amerika, Arab dan Israel terbaru yang sekongkol menghancurkan Gaza
Koresponden koran New York Times David Kirkpatrick mengatakan, “Kira-kira dua tahun lalu, ketika Israel menyerang Gaza, entitas Zionis itu mengalami tekanan dari semua pihak dan negara-negara Arab tetangganya untuk menghentikan peperangan. Namun ternyata itu tidak terjadi terjadi sekarang.”

Kirkpatrick menambahkan, kudeta militer atas pemerintahan Islam di Kairo (Mesir) tahun lalu menggiring dan memimpin persekutuan baru negara-negara Arab – termasuk Arab Saudi, Emirat Arab, dan Jordania yang berdiri bersama Israel melawan Hamas yang menguasai Jalur Gaza. Inilah yang menjadi faktor kegagalan “para pemain” dalam perang untuk menyepakati gencatan senjata meski sudah berlangsung tiga pekan.

Kirkpatrick mengutip tulisan David Aron Miller, mantan perunding dan peneliti di lembaga peneliti Wilson di Washington bahwa kemarahan dan ketakutan negara-negara Arab terhadap Islam politik melampaui kepekaan mereka terhadap orang Israel seperti Benjemen Netanyahu, Perdana Menteri Israel saat ini.

Ia menembahkan, saya tidak melihat sikap seperti ini, dimana jumlah negara Arab sebesar ini sepakat ingin mematikan, menghancurkan Gaza dan Hamas.

Meski Mesir – secara tradisional – dianggap sebagai mediator utama dalam pembicaraan negoisasi dengan Hamas, namun pemerintah Kairo mengejutkan Hamas kali ini dengan mengusulkan gencatan senjata dengan hanya merespon syarat dari Israel dan sama sekali mengabaikan tuntutan Hamas. Saat Hamas menolak gencatan senjata ini, Mesir ternyata tetap keuhkeuh dengan prakarsanya dan dianggapnya sebagai titik awal dari semua pembicaraan gencatan senjata, tegas Muller.

Simpatisan Palestina mengkritik prakarsan Mesir itu sebagai akal-akalan memojokkan Hamas. Sementeara negara-negara sekutu Mesir memujinya. Pangeran Saudi mengontak presiden Abdul Fattah Sisi menyambut inisiatif itu. Bahkan Al-Sisi mengatakan, “Kucuran darah sipil Palestina yang membayar mahal harga konfrontasi militer yang seharusnya mereka (sipil) tidak bertanggungjawab atasnya”.

Menurut Khalid Jundi, mantan penasehat perunding Palestina, bahwa jelas ada kepentingan bersama antara rezim-rezim Arab tersebut dengan Israel. “Perang Mesir atas kekuatan Islam politik dan perang Israel atas ekstrimis Palestina memiliki kesamaan. Ini mirip perang agenci, dimana Israel perang mewakili kepentingan negara-negara Arab melawan Hamas.??”

Alih-alih Israel terkucil, justru akibat Arab Spring, entitas Zionis ini menjadi pemetik kepentingan terbanyak dari bebagai macam kekacauan di dunia Arab.

Mesir justru juga menuding Hamas secara tidak langsung bertanggungjawab atas tewasnya korban yang begitu banya, yang seharusnya menuding Israel. Mesir juga menuding Hamas sebagai alat konspirasi Islam regional untuk menciptakan kerusuhan.

Pada saat yang sama, Mesir terus menekan Gaza dengan menutup terus menerus perlintasan dan menghancurkan Gaza, seperti informasi yang di kutip Silontong dari laman Info Palestina (2/8).

Lalu, apakah semua negara Arab membantu Israel untuk menyerang Hamas? Ya memang tidak semua, ada negara Arab yang masih peduli dengan Hamas, yaitu Turki. Di kabarkan dari Mina, bahwa Turki baru-baru ini telah membantu warga Gaza.

“Dua puluh truk memuat bahan pangan dan kebutuhan hidup lainnya diangkut melalui penyeberangan perbatasan Karem Abu Salem ke Jalur Gaza selatan,” kata perwakilan TIKA di Gaza, Muhammad Murteca kepada Anadolu Agency yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Silahkan berkomentar