Surat Untuk Obama dari Dokter Norwegia di Gaza, Merinding bacanya..!!

Diposting pada

Banyak aktivis kemanusiaan yang mengabdi dan menghabiskan waktunya di Jalur Gaza. Kerja mereka memang tidak ada habisnya, karena korban perang yang jatuh akibat serangan biadab Israel terus dilakukan dengan membabi buta. Akibatnya, anak kecil, wanita dan semuanya warga sipil yang tak berdosa berjatuhan menjadi korban.

Dari korban tersebut, jika ada yang meninggal, maka akan segera di makamkan, namun bagaimana dengan luka-luka, kaki hilang sebelah, leher patah, otak keluar berceceran, limpah pecah, isi perut terburai atau ….?

Adalah mereka yang setia dalam tugasnya, ada beberapa. Namun kali ini kita coba ambil satu contoh saja. Siapa dia? Adalah Dr. Mads Gilbert Frederick asal Norwegia yang menyempatkan diri untuk menulis surat kepada Barack Obama, Presiden Amerika Serikat.

Pembaca yang budiman;

Sebelum silontong menyampaikan apa sisi surat yang Mads Gilbert Frederick tulis, berikut sekilas profil dari sang Dokter.

Kabar dan foto terbaru Dokter yang mengabdi di Gaza

Dr. Mads Gilbert Frederick (lahir 2 Juni 1947 di Porsgrunn, provinsi Telemark, Norwegia) adalah seorang dokter dan aktivis kemanusiaan. Ia menerima gelar PhD di University of Iowa. Beliau adalah spesialis dalam anestesiologi dan menjadi dosen bidang pengobatan darurat di University of Tromsø sejak tahun 1995.

Gilbert memiliki pengalaman di berbagai aksi kemanusiaan internasional, khususnya dari lokasi yang menggabungkan masalah medis dan politik. Dia aktif terlibat dengan pekerjaan solidaritas untuk Palestina sejak tahun 1970-an, ia menjabat sebagai dokter selama beberapa periode di wilayah Palestina dan Lebanon.

Beliau menjalankan misi kemanusiaan saat invasi Israel ke Lebanon pada 1982. Gilbert juga telah menghabiskan lebih dari dua pekan sebagai salah satu dokter asing di Gaza selama agresi militer Israel “Operation Cast Lead” 2008-2009.

Dalam agresi itu, Gilbert tiba dengan surat tugas darurat untuk Komite Bantuan Norwegia (NORWAC) bersama ahli bedah Erik Fosse guna mendukung upaya kemanusiaan di Rumah Sakit as-Shifa, Kota Gaza.

Beliau juga kembali melakukan aksi kemanusiaan di bidang medis saat agresi militer Israel ke Jalur Gaza dengan sandi operasi “Pillar of Defence” pada pertengahan November 2012.

Seorang profesor kedokteran di University of North Norway itu juga menjadi co-author dari buku “Eye on Gaza”, merupakan kesaksiannya selama agresi dan invansi militer Zionis Israel di Gaza.

Mads Gilbert kembali ke Gaza dan bertugas di Rumah Sakit As-Shifa sejak agresi militer Israel “Operation Protective Edge“, Senin (7/7) lalu, dan hingga kini masih bertugas di salah satu rumah sakit terbesar dan terlengkap di wilayah terblokade.

Berikut petikan surat yang dirilis Middle East Monitor (MEMO), Ahad (20/7) dan diterjemahkan oleh wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Rana Setiawan.

Teman-teman tercinta,

Tadi malam sungguh ekstrem. “Invasi darat” Zionis Israel ke Gaza mengakibatkan korban berjatuhan dan banyak yang cacat, terkoyak, perdarahan, menggigil, gemetar, terbaring, sekarat – banyak warga Palestina yang terluka, segala usia, semua warga sipil dan semua orang yang tidak bersalah.

Para pahlawan di ambulan dan di seluruh rumah sakit Gaza bekerja dengan sistem shift 12-24 jam, wajah pucat akibat kelelahan dan beban kerja tidak manusiawi (semua tanpa dibayar di RS As-Shifa selama empat bulan terakhir), mereka merawat, mengobati, mencoba untuk memahami kekacauan yang tidak dapat dimengerti.  Dari anggota tubuh manusia, ukuran, tungkai, kaki, tidak berjalan, bernapas, tidak bernapas, berdarah, tidak berdarah. YA MANUSIA!

Sekarang, sekali lagi mereka diperlakukan seperti binatang oleh pasukan yang katanya “tentara paling bermoral di dunia” (Zionis Israel!).

Hormat saya tidak ada habisnya bagi mereka yang terluka, di tengah-tengah rasa sakit, penderitaan dan terguncang; kekaguman saya kepada staf dan relawan ini tak ada habisnya, kedekatan saya dengan rakyat Palestina memberi saya kekuatan, meskipun dalam sekilas Saya hanya ingin berteriak, memegang seseorang erat-erat, menangis, mencium hangat kulit dan rambut seorang anak yang berlumuran darah, melindungi diri dalam pelukan tak ada habisnya – tetapi kami tidak mampu untuk itu, juga mereka tidak bisa.

Wajah pucat pasi – Oh TIDAK! Tidak hanya puluhan tubuh yang cacat dan berdarah, kami masih memiliki danau darah di lantai UGD, yang menetes ke mana-mana, perban yang berlumuran darah untuk membersihkan – oh – petugas kebersihan, di mana-mana, dengan sigap menyekop darah dan membuang tisu, rambut, pakaian, Kanula -sisa-sisa makanan dari kematian- semua diambil … harus siap lagi, harus diulang lagi seluruhnya. Lebih dari 100 kasus datang ke RS As-Shifa dalam 24 jam terakhir. Cukup untuk sebuah rumah sakit besar yang terlatih dengan segala sesuatunya, tapi di sini – hampir tidak ada: tidak ada listrik, air, obat-obatan, ATAU- meja, instrumen, monitor – semua berkarat dan seolah-olah diambil dari museum rumah sakit kemarin. Tapi mereka tidak mengeluh, pahlawan-pahlawan ini. Mereka langsung bergerak, seperti prajurit, terus maju, dengan penuh kesigapan.

Dan ketika saya menulis kata-kata ini kepada Anda, sendirian, di tempat tidur, aliran air mataku, air mata dari rasa sakit dan kesedihan, kemarahan dan ketakutan. Ini tidak terjadi!

Saat ini, orkestra dari mesin perang Zionis Israel mulai menyanyikan simfoninya yang mengerikan. Baru-baru ini, salvos artileri dari kapal angkatan laut di ujung pantai, F16 yang menderu, drone memuakkan (Bahasa Arab ‘Zennanis’), dan Helikopter Tempur Apache yang bising. Begitu banyak yang dibuat dan dibiayai oleh Amerika Serikat.

Gambar dan Kabar terbaru tentang Tim Medis di konflik Gaza

Obama – Apakah Anda punya hati?

Saya mengundang Anda menghabiskan satu malam -hanya satu malam- dengan kami di RS As-Shifa. Barangkali Anda menyamar sebagai petugas kebersihan.

Saya yakin, 100%, hal itu akan mengubah sejarah.

Tak seorang pun dari mereka dengan hati dan kekuatan yang dapat melewati satu malam di RS As-Shifa tanpa bertekad untuk mengakhiri pembantaian rakyat Palestina.

Tapi mereka yang tak berperasaan dan kejam telah melakukan perhitungan mereka dan merencanakan serangan lain di Gaza.

Sungai-sungai darah akan tetap mengalir di malam-malam yang akan datang. Saya bisa mendengar mereka telah memainkan instrumen kematian.

Tolong. Lakukan apa yang Anda bisa. Ini, INI HARUS DIHENTIKAN !!.

Mads Gilbert, MD. PhD.

Profesor Klinis dan Kepala Klinik Kedokteran Darurat di University of North Norway.

Inilah para Dokter yang setia di Jalur Gaza

Pembaca yang budiman;

Belum tahu apa respon dari Obama setelah membaca surat tersebut, apakah punya inisiatif atau mau membalas surat dari Mads Gilbert. Entahlah. Atau apakah Obama berani terima tantangan dari sang dokter, Mads Gilbert untuk menginap satu malam saja di Gaza. Wallhu’alam.

Credit gambar: mirajnews.com

6 komentar

  1. Barack Obama sama Penakutnya Dengan Tentara Zionis Israel yg sangat Biadab, saya yakin dia tak akan berani terima tantangan dari sang dokter, Mads Gilbert untuk menginap satu malam saja di Gaza.

  2. sprti kgk tahunya, obama tu penakut, sm seperti netanyahu yang hanya berani memerintah, tp kgk mau berbuat, persetan obama kamu najis seprti israel.

  3. sesungguh nya dunia hanyalah persinggahan . smua itu takdir ! tidak pun balasan d dunia mungkin d akhirat nanti . berlipat2 bahkan beriburibu kali lipat balasan apa yg tlah orang yahudi lakukan terhadap palestina

Silahkan berkomentar